Selasa, 20 Desember 2011

Penggunaan Lahan Di Dataran Tinggi Dieng



LAHAN PERTANIAN DI DATARAN TINGGI DIENG

A.  Gambaran Umum Wilayah Dataran Tinggi Dieng.
  1. Kondisi Fisiografis
            Kabupaten Wonosobo yang mempunyai luas 984,68 km2. Berbatasan dengan Kabupaten Kendal dan Batang (utara), sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan Purworejo (selatan), serta berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kebumen (barat). Kabupaten ini terletak pada 7°04’11” LS sampai 7°11’13” LS dan 109°43’’19” BT sanpai 110°04’’40” BT, yang memiliki luas wilayah 98.467,975 ha, terdiri dari 4 wilayah pembantu bupati dan 13 kecamatan.
            Dataran tinggi atau Plato Dieng dikenal sebagai Plato Wonosobo di Provinsi Jawa Tengah. Secara administratif tidak hanya dalam wilayah Wonosobo namun juga masuk ke dalam wilayah Temanggung, Magelang dan Banjarnegara. Panjang dari Plato ini adalah 70 km dengan lebar 12-17 km. Terdapat dua gunung berapi aktif yaitu Sindoro (3.136 m) dan Sumbing (3.371 m) yang masih aktif. Dieng beriklim dingin dengan musim basah hingga kering, karena terletak di ketinggian 1000-3000 m dpl dan curah hujan rata-rata 2300-4500 mm/tahun. Penduduk Dieng adalah suku Jawa. Suhu udara daera ini adalah 24°-30°C pada siang hari dan 20° C pada malam hari. Adapun permasalahan lingkungan yang sering terjadi di Wonosobo adalah penggundulan hutan dan erosi, karena masyrakat banyak melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi usaha tani sayuran.
            Faktor lain yang mendukung penggunaan lahan dataran tinggi Dieng sebagai pertanian tanaman  sayuran adalah dukungan infrastruktur dan lembaga koperasi ataupun kelompok tani yang berfungsi sebagai penyedia sarana produksi (input), pembina teknis, pembina usaha dan penampung hasil produksi.
2. Kondisi Demografis
            Mata pencaharian yang utama dari penduduk di sekitar dataran tinggi Dieng adalah sebagai petani, khususnya petani tanaman sayuran. Tanaman sayuran kentang merupakan tanaman sayuran unggulan yang diikuti sawi, kubis, bunga kol, daun bawang, bawang putih, kacang tanah dan cabe.


 B. Karakteristik Sumber Daya Lahan Pertanian di Dataran Tinggi Dieng 
            Permasalahan kedua yang diajukan dalam makalah ini adalah karakteristik sumber daya lahan pertanian. Fakta geografis secara umum menunnjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang mempunyai iklim basah hingga kering dengan tingkat kelembaban yang tinggi, sehingga merupakan persyaratan tumbuh yang baik bagi tanaman tropis. Indonesia terletak di antara 10° LU dan 10° LS sehingga bebas dari gangguan taifun yanmg merupakan salah satu kendala dalm kegaiatan usaha tani.
            Hal yang secara alami tidak dapat dihindari khususnya dalam kegiatan usaha tani sayuran adalah adanya vulkanisme dan gempa. Gempa disebabkan oleh kondisi Kepulauan Nusantara yang merupakan titik temu dari tiga gerakan lempeng muka bumi, yaitu : Gerakan sistem Sunda di bagian barat,  Gerakan sistem pinggiran Asia timur dan Gerakan sirkum Australia. Sementara vulkanisme disebabkan oleh aktivitas gunung berapi, di mana gunung apai di Indonesia berjumlah lebih dari 100, yang dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu : gunung api padam, gunung api istirahat dan gunung api aktif. Daerah-daerah yang terletak di sekitar gunung api memiliki tanah yang sangat subur, di mana terjadi pemusatan usaha tani dataran tinggi. Dampak positif lain dari vulkanisme yaitu menyuburkan tanah untuk usaha pertanian, meningkatkan mutu batubara, serta sumber panas bumi. Selain itu, dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanisme adalah saat gunung tersebut meletus yang dapat menimbulkan bencana/musibah bagi penduduk sekitar.
            Tingkat kesuburan tanah juga sangat tergantung pada sifat batuan induknya, yang digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu : tanah dengan batuan induk vulkanik, tanah dengan batuan induk non vulkanik dan tanah dengan batuan induk organik.
            Pada lahan pertanian di wilayah dataran tinggi mempunyai karakteristik tersendiri terkait dengan sifat iklim yang berlaku di dataran tinggi tersebut. Komoditas pertanian yang dibudidayakanpun adalah tanaman-tanaman yang sesuai dengan persyaratan tumbuh di dataran tinggi. Adapun beberapa komoditas tanaman pertanian dataran tinggi yaitu : tanaman keras, tanaman kehutanan, berbagai tanaman buah dan tanaman sayuran, seperti kentang, sawi, kubis, bunga kol, daun bawang dan cabe.


C.  Kendala Yang Muncul Pada Pengelolaan Lahan Pertanian Di Dataran Tinggi Dieng.
Budidaya hortikultura telah mengubah paras pegunungan kita menjadi ladang sayur-mayur, suatu kegiatan pertanian yang sangat marak di banyak daerah di pegunungan Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia. Dari sisi ekonomi masyarakat pedesaan ataupun dari aspek manfaat dalam jangka pendek boleh jadi berkembangnya sistem budidaya hortikulura yang sangat intensif di pegunungan adalah suatu kemajuan, apalagi disaat terbatasnya lapangan pekerjaan dan masih marjinalnya tingkat pendapatan petani. Namun kalau kita memandangnya dari aspek yang lebih komprehensif, yakni nilai ekonomi keseluruhan, manfaat jangka panjang dan yang sangat penting adalah peran ekologis pegunungan untuk menjaga kelangsungan kehidupan manusia dalam jangkauan yang lebih luas, maka tata guna lahan yang terjadi saat ini menjadi paras yang sangat mengkhawatirkan.
Lahan pertanian yang ada di dataran tinggi biasanya memiliki topografi yang miring dengan relief berombak. Biasanya pada daerah lahan berbukit memilki solum tanah dalam namun telah mengalami proses yang lebih lanjut seperti erosi, denudasi, angkatan, lipatan, dan patahan. Jika sistem pengelolaan lahan tidak disesuaikan dengan karakteristik lahan akan dapat menyebakan degradasi lahan yang berdampak pada penurunan produktivitas lahan.

Jika sistem pengelolaan lahan kurang sesuai kemungkinan terjadinya degradasi lahan yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas lahan sangat tinggi. Selain itu, akibat dari drainase yang cepat menyebabkan air mudah hilang sehingga ketersediaan air untuk tanaman pun berkurang. Oleh sebab itu, sangat diperlukan teknik pengelolaan lahan pada dataran tinggi lahan yang baik sesuai dengan kondisi lingkungannya.

D. Cara Penanggulangan Kendala Yang Muncul Pada Pengelolaan Lahan Pertanian Di Dataran Tinggi Dieng.

1.   Sistem Pengelolaan Lahan Berkelanjutan

Sistem pengelolaan lahan berkelanjutan adalah suatu teknik atau cara yang dilakukan oleh pemilik lahan terhadap lahan yang dimiliki dalam hal pengolahan tanah agar kesuburan tanah, produktivitas lahan, konservasi tanah dan air dapat terjamin sehingga memungkinkan terlaksananya usaha tani dalam jangka waktu yang panjang dari generasi ke generasi dengan hasil yang semakin meningkat dan pemanfaatan lahan yang berkelanjutan. Pentingnya sistem pengelolaan lahan berkelanjutan ini yaitu untuk menjaga keleastarian suatu lahan sehingga dalam pemanfaatannya lahan masih mampu memberikan daya dukung yang optimal.

2.   Evaluasi Kesesuaian Lahan

Dalam sistem ini medamudakan atau menyesuaiakan antara karakteristik lahan, kondisi sosial ekonomi dan jenis tanaman. Kesesauaian ini sangat penting untuk menentukan kelas kemapuan lahan yang nantinya akan disesuaikan dengan tanaman atau vegetasi yang tumbuh diatasnya agar tetap dapat berproduksi optimal.

3.   Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air

Konservasi tanah dan air merupakan upaya pengawetan dan pemeliharaan air yang diterapkan pada suatu lahan. Pada lahan dataran tinggi sebagian sudah mulai menggunakan teknik konservasi tanah dan air yang benar. Teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan antara lain pembuatan teras, penerapan multi cropping pada suatu lahan, penanaman tanaman rumput sebagai penguat teras dan disekitar aliran sungai sebagi filter dan pembuatan saluran pembuangan air.

4.   Sistem Tanam

Pada dasarnya beberpa lokasi sudah ada yang menggunakan sistem tanam yang sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air. Pada lahan berbukit sistem tanam lebih tepat menggunakan sistem tumpang sari. Tumpang sari atau tumpang gilir adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan.

5.   Pemupukan Organik Dengan Memanfaatkan Sistem Reuse,Reduse, dan Recycle

Pengembalian bahan organik dari residu tanaman akhir-akhir ini telah menjadi suatu keharusan dalam suatu praktek usah tani. Alternatif teknik produksi dengan masukan bahan organik atau pupuk organik, yang sering disebut pertanian organik, mengandalkan hara tanaman sepenuhnya dari bahan organic. Teknik produksi yang menganjurkan penggunaan pupuk organic dan pupuk anorganik secara komplementer dalam agroekoteknologi juga menempatkan pentingnya pengembalian sisa tanaman, termasuk jerami sebagai sumber hara dan pemeliharaan kesuburan tanah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar